Belum kenal kok Bermaaf-maafan, ah, yang penting niat.

1 Aug 2013

Beberapa waktu sebelum lebaran tahun lalu, saya perangkat ke Sukabumi untuk mengerjakan proyek desain (kerjaan saya freelance layouter), lumayan lah, buat THR-an dan nyangoni ponakan-ponakan yang masih kecil. Proyek yang saya kerjakan di Sukabumi waktu itu adalah pembuatan buku kenangan Lemhanas, kebetulan waktu itu, saya ikut sebuah perusahaan Konsultasi desain lokal di Sukabumi.

Semua bahan baik materi untuk pembuatan buku kenangan baik yang berupa tulisan maupun foto sudah tersedia lengkap, desain template-nya dan Mockup-nya pun sudah ada, jadi fikir saya, kerjaanya ringan, hanya tinggal memasukkan materi ke dalam template sambil mengerjakan revisi-revisi kecil. “Ah, paling lama 2 minggu selesai!”, batin saya waktu itu.

Namun dugaan saya ternyata salah, pengerjaan buku kenangan tak jua selesai dalam waktu 2 minggu, hal ini karena ternyata banyak sekali revisi pada naskah. Yah, mau tak mau, saya beserta segenap tim butuh waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan proyek ini.

Dan Cilaka, ternyata buku kenangan ini baru selesai 2 hari menjelang lebaran. Cilaka lagi, ternyata saya lupa beli tiket bus untuk pulang ke Magelang. Mungkin saking fokusnya sama kerjaan, sampai lupa dengan urusan kampung halaman. Saya pun mencoba untuk mencari tiket bus Jurusan Magelang di waktu yang sudah mepet itu, dan apa lacur, semua tiket untuk keberangkatan H-1 sudah ludes terbeli. Nasib-nasib…

Beruntung di detik-detik terakhir, saya dapet kabar dari teman yang kebetulan orang travel, katanya ada info tiket lepas untuk Bus Kramat-Djati Tujuan Jogja untuk keberangkatan H-1. yah, walaupun harganya agak nendang (namanya juga limited edition), akhirnya saya ambil juga, sungguhpun itu hanya mengantarkan saya sampai Jogja, dan tidak sampai Magelang.

Nah, jadwal keberangkatan busnya tanggal 18 Agustus 2012, jam 12 siang (lebaran tanggal 19), Dengan asumsi lama perjalanan Sukabumi-Jogja kurang lebih 12 jam, dan perjalanan Jogja-Magelang 1 jam, ditambah waktu tak terduga 1 jam, itu artinya saya paling lama sampai di Magelang jam 2 pagi, sementok-mentoknya sebelum subuh lah. Jadi saya anggap, saya masih bisa Shalat Ied di Magelang kampung Halaman.

Saat itu seingat saya, Bus diisi oleh penumpang yang hampir semuanya orang jawa perantauan.

Namun lagi-lagi saya salah, saya tak memperhitungkan unsur macet pra lebaran. Perjalanan yang saya kira akan lancar (karena jalur yang saya lalui bukan lewat Pantura), ternyata macet setengah mati. Bus yang saya tumpangi tak ubahnya seperti Keong yang merangkak pelan dan perlahan. Kemacetan terparah terjadi sepanjang jalur Garut-Tasikmalaya-Ciamis. Di sepanjang jalur trisula itu, bus kami terjebak dalam genangan pawai mobil takbiran yang membuat jalan macet parah. Bisa jalan 100 meter dalam 5 menit saja, itu sudah sangat untung. Saya pun hanya bisa pasrah, saya tak bisa menyalahkan siapapun, dan memang tak ada yang pantas untuk dipersalahkan. Mungkin Alloh sedang ingin memberikan saya pengalaman baru, untuk menikmati detik-detik Shalat Ied di dalam Bus, dan bukan di serambi masjid kampung saya.

Bayangkan, Jam 12 malam yang rencananya saya sudah sampai Jogja, eh malah saat itu, saya masih terjebak macet di Ciamis. Walah, Tobat. Gerutuan dan sumpah serapah pun mulai keluar dari mulut para penumpang yang kesal dengan kemacetan ini. Pak Sopir juga tak dapat berbuat banyak. Mau diklakson sampai berbusa juga ga mungkin ngilangin macet.

Keluar Ciamis, macet sudah mulai berkurang, jalanan pun mulai lancar. Dan tepat jam 4 pagi, bus yang kami tumpangi sudah sampai di Cilacap. Di sepanjang jalan arteri Cilacap ini, bus kami beberapa kali berhenti, karena ada beberapa penumpang yang turun.

Jam 6 pagi, Bus pun mulai memasuki jalanan Purworejo, Bunyi takbir Ied pun sudah mulai terdengar jelas di beberapa masjid yang kebetulan letaknya di pinggir jalan. Menjelang jam setengah tujuh pagi, sudah nampak banyak orang yang berangkat pergi ke Masjid sambil membawa tikar dan sajadah untuk sholat Ied. “Wah, benar-benar saya ndak ditakdirkan untuk Sholat Ied di Masjid kampung ini”, batin saya waktu itu.

Saya hanya bisa memandangi dari kaca bus saat terlihat para warga berangkat ke masjid, sambil sesekali bersalaman dengan kerabat dan sanak saudara di Jalan. Duh, indah sekali rasanya, bikin iri.

Belum habis saya membayangkan rasa iri saya, tiba-tiba ada seorang penumpang perempuan setengah baya yang nyeletuk, “Mas mas mbak-mbak bapak-ibu sekalian, ini kan sudah lebaran, jadi ndak ada salahnya kalau saya salaman sama panjenengan semuanya, yah, itung-itung berlebaran sama penumpang dan sambil bermaaf-maafan!”

Tanpa ba bi bu, ibu itu langsung menyalami para penumpang satu per satu, dan tak dinyana, semua penumpang pun menanggapi dengan positif dan kemudian malah ikut bersalaman dengan penumpang lain. Saya pun tak mau ketinggalan, saya juga menyalami satu per satu penumpang lain. Suasana bus saat itu langsung berubah bak rumah pejabat yang lagi open house, semua penumpang saling bersalaman sambil mengucapkan selamat hari raya disertai dengan permintaan maaf “Sugeng riyadi pak bu, sedoyo lepat, kulo nyuwun ngapunten!!!” hahaha, sungguh, kami semua nampak cair bercampur geli, bagaimana ndak geli, ketemu baru pertama kali, belum pernah berinteraksi, namun sudah saling meminta maaf.

Seorang penumpang kemudian nyeletuk sambil tertawa kecil “oalah, koplak, hurung tau ketemu, kok wis do njaluk ngapuro” (belum pernah ketemu kok sudah pada bermaaf-maafan. Penumpang lain pun langsung menimpali menjawab “Rapopo mas, sing penting niate, dicatet ganjaran’e kok mas” (tak apa mas, yang penting niatnya, pahalanya dicatet kok mas). Demi mendengar jawaban spontan ini, semua penumpang pun kemudian memecahkan gelak tawanya.

Beberapa penumpang yang membawa makanan pun punya inisiatif untuk menyuguhkan makanannya bagi para penumpang, “Monggo mas, pacitan’e, ra lengkap nek ujung ra ono pacitan” (silahkan mas, hidangannya, belum lengkep berlebaran tanpa hidangan). Kami pun dengan agak sedikit malu-malu (tapi mau) langsung menyamber itu makanan, tentu kembali dengan gelak tawa tipis.

Dan Tak terasa, tepat jam 8 pagi, bus kami sampai di terminal Jombor Jogja. Kami para penumpang pun langsung turun dan mengemasi barang-barang kami.

Sebelum berlalu pergi, kami saling memberikan salam jalan. Ya, pengalaman berlebaran di Bus beberapa jam sebelumnya rupanya telah membuat kami seolah-olah menjadi keluarga, sehinga salam jalan oleh penumpang pun dianggap lumrah.

Hhh, benar-benar pengalaman lebaran dan bermaaf-maafan yang tak bisa saya lupakan sepanjang hidup, sungguhpun itu saya harus mengorbankan diri untuk membongkar kebiasaan dengan tidak sholat Ied di Masjid Kampung. Ah, Sudahlah.


TAGS ngaBLOGburit lebaran


-

Author

Follow Me