Kebersamaan kami terbalut dalam letusan Mercon

31 Jul 2013

Lebaran=mudik, pulang kampung, sungkem sama orang tua, dan bertemu keluarga besar. Itulah ritual klise lebaran yang mungkin tak bisa saya rasakan. Apa lacur, saya kelahiran Magelang, tinggal di Magelang, besar di Dzolimi Magelang, kerja pun di Magelang. Orang tua saya pun begitu, baik bapak maupun ibu sama-sama berasal dari Magelang (masih satu kabupaten, hanya beda kecamatan). Jadi jelas, dalam kamus hidup saya, tak ada yang namanya momen sungkeman romantis seorang anak kepada orang tua setelah tidak bertemu berbulan-bulan karena sang anak kerja mencari uang di kota perantauan.

Yang namanya sungkem dan meminta maaf sambil menangis kepada orang tua, bagi saya mungkin hanya formalitas. Tiap lebaran, saya memang selalu meminta maaf kepada kedua orang tua atas segala kenakalan dan kebandelan saya, juga atas ketidaknurutan saya, tapi alhamdulilah, sejauh ini, saya belum pernah melakukannya sambil sungkem ataupun menangis (seperti orang lain kebanyakan), malah terkadang, justru orang tua saya yang nampak berkaca-kaca saat saya mengucapkan permintaan maaf saya. Bukannya saya berhati batu, namun mungkin karena setiap hari saya bertemu orang tua saya, jadi tak ada rasa kerinduan yang mendalam, dimana rasa rindu yang mendalam ini sering kali menjadi bumbu pelengkap seorang anak untuk sungkem sambil menangis.

Jadi kalau ditanya, apa momen terindah saat lebaran? jelas saya akan sedikit bingung, karena ketika yang lain menjawab “momen terindah saat lebaran adalah Sungkem sama orang tua”, saya malah menyebutkan jawaban lain yang menurut saya kurang etis.

Oke oke, saya akan mengaku. Jujur, bagi saya, momen terindah saat lebaran adalah momen menyalakan petasan alias mercon. Sekali lagi saya akui, inilah momen terindah saat lebaran. Momen dimana hampir semua warga, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak, remaja sampai anak kecil berkumpul bersama di lapangan atau jalanan kampung setelah pulang shalat ied untuk melihat prosesi penyalaan mercon.

Beberapa remaja di kampung kami memang kerap membuat mercon untuk dinyalakan pada waktu lebaran setelah shalat Ied. melihat mercon meletus dengan bunyi yang keras bak bom teroris yang dibarengi dengan sobekan-sobekan kertas mercon terasa menjadi sangat spesial. Karena saat itulah hampir semua warga berkumpul sambil berbincang bersama menikmati dentuman suara mercon yang memekakkan telinga kami. Pokoknya, terasa sekali semangat guyub rukun dusun yang di hari biasa tidak terlalu kelihatan.

Puluhan mercon disulut bergantian untuk memeriahkan suasana lebaran hari pertama.

Gelak tawa sesekali pecah saat ada beberapa luntung mercon yang ternyata mejen alias tidak meledak, namun hanya mengeluarkan bunga api layaknya alat las atau kembang api.

Prosesi ini hampir selalu menjadi momen yang selalu saya tunggu setiap lebaran. Makin kerasnya larangan dari Kepolisian untuk tidak membunyikan mercon yang ditambah dengan makin mahalnya bubuk mercon (black powder) yang kini harganya bisa sampai 25.000 rupiah per ons-nya nyatanya tak sanggup untuk menyurutkan nyali para remaja di kampung kami untuk membuat mercon. Bahkan para remaja antar RT kadang saling beradu gengsi dengan pamer ukuran mercon yang mereka buat.

Hhh, Mercon memang kadang membahayakan, tapi dalam momen tertentu, mercon juga kadang mengangenkan dan terasa spesial, bahkan juga indah.


TAGS ngaBLOGburit lebaran


-

Author

Follow Me