Baju Baru? Bagi anak kecil mungkin sebuah keharusan, bahkan kewajiban

26 Jul 2013

Baju baru, alhamdulillah, buat dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa, masih ada jemuran tetangga.

Itulah sepenggal lirik lagu plesetan Baju lebaran (Dea Ananda) yang dilantunkan oleh pengamen di sebuah Bus antar kota, saya mendengarnya saat saya menempuh perjalanan ke Sukabumi, menjelang lebaran tahun lalu.

Baju baru memang sangat identik dengan lebaran, saking identiknya, kadang ada yang menganggap bahwa belum lebaran kalau belum ada baju baru. Hal ini memang tak dapat dibantah, karena memang ternyata, tradisi membeli baju baru di Indonesia sudah ada sejak jaman kemerdekaan.

Menurut cerita bapak saya, Dulu, sewaktu bapak saya kecil, lebaran menjadi momen bagi anak-anak sekolah untuk berganti seragam. Kenapa? karena waktu itu, kebanyakan orang tua justru membelikan baju sekolah yang baru bertepatan dengan momen lebaran, sedangkan beberapa anak yang punya orang tua mapan, mungkin sedikit lebih beruntung karena selain dibelikan baju sekolah yang baru, juga dibelikan baju sehari-hari oleh orang tuannya.

Nah, di jaman sekarang, tradisi membeli baju baru masih terus berlanjut. Namun bukan lagi baju sekolah, melainkan baju santai atau baju lebaran. Anak-anak akan rewel dan terus saja merengek jika sampai H-1 lebaran belum juga dibelikan baju baru oleh orang tuanya, saya dulu bahkan sampai ngambek karena ibu saya membelikan baju lebaran tepat pada H-1 lebaran, itupun baju-nya tidak sesuai dengan keinginan saya.

Itulah gambaran betapa baju baru seakan menjadi prosesi wajib di hari raya.

Pada dasarnya, baju baru bukanlah sebuah keharusan. Tapi jujur saja, saya bisa bilang begitu karena usia saya sekarang sudah dewasa, sehingga tidak menganggap baju baru itu istimewa (tapi kalau ada yang membelikan, saya tetep terima kok), sedangkan bila saya memposisikan diri sebagai anak kecil, saya yakin saya akan bilang bahwa baju lebaran adalah sebuah keharusan, bahkan mungkin sebuah kewajiban.

Hal ini tak terlepas dari kebiasaan orang tua membelikan baju baru bagi anaknya. Anak yang sudah sejak kecil selalu rutin dibelikan baju baru oleh orang tua-nya saat lebaran, maka dia akan terus menganggap bahwa baju baru itu harus ada sat lebaran.

Bukan tanpa alasan saya mengatakan hal ini, karena saya pernah kenal dengan orang tua yang kebetulan juga pernah menjadi dosen saya. secara ekonomi, beliau adalah orang kaya, hidupnya bekcukupan, sudah punya rumah sendiri, bahkan mobil pun punya. Tapi beliau tak pernah membelikan baju baru saat lebaran bagi anaknya yang masih kecil, jadilah sang anak terbiasa dan tak pernah menuntut baju baru kepada orang tua-nya saat lebaran.

Hanya saja yang sering terjadi di masyarakat kita adalah Orang tua kerap tak tega jika harus melihat anaknya hanya mengenakan pakaian lama, sedangkan teman-temannya justru asyik pamer baju dan celana yang dibelikan oleh orang tua masing masing.

Dalam beberapa kasus, membelikan baju baru untuk anak malah menjadi gengsi tersendiri. Sehinga tak jarang, para orang tua berlomba-lomba untuk bisa membelikan baju baru sebanyak-banyaknya untuk anaknya.

Hal inilah yang membuat orang tua, baik yang miskin maupun yang kaya untuk bisa membuat target agar di akhir puasa bisa membelikan baju baru kepada anak-anaknya, sunguhpun itu hanya sepotong.

Intinya, baju baru itu bukanlah sebuah keharusan, Namun keinginan anak-anak, serta gengsi dan perasaan orang tua-lah yang membuatnya menjadi sebuah keharusan dan kewajiban.


TAGS baju baru puasa


-

Author

Follow Me