Sahur rasa Jathilan di puasa perdana

17 Jul 2013

Di kampung saya, ada sesuatu yang unik yang hanya terjadi pada momen bulan ramadhan, yaitu Jathilan di sepertiga malam. Aneh dan ndak lumrah memang, tapi memang begitu adanya. Karena di kampung saya, cara membangunkan orang untuk sahur adalah dengan menabuh perangkat gamelan jathilan sambil berkeliling kampung. Dan tradisi ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu dan masih tetap berlanjut hingga sekarang. Maklum saja, karena memang kampung saya merupakan salah satu kampung yang warganya sangat mengidolakan kesenian Jathilan, boleh dibilang, kampung saya ini termasuk jathilan enthusiast, dan warganya pun banyak yang menjadi jathilan geek alias praktisi jathilan (halah, bahasanya kok sok banget!, biarin, yang penting hepi).

Memang, beberapa tahun ini, speaker masjid atau mushola sudah banyak digunakan untuk membangunkan para warga untuk sahur, namun tetap saja para ABG di kampung saya masih setia membangunkan orang sahur dengan berkeliling kampung sambil menabuh gamelan. Satu rombongan pembangun sahur ini biasanya terdiri dari 7-10 orang, dimana rincianya adalah, 1 orang mendorong gerobak yang digunkan untuk mengangkut tabuh bas yang terbuat dari drum dengan 1 orang sebagai penabuhnya, 1 orang menabuh kendang, 2 orang menabuh demung, 1 orang menabuh bonang, sedangkan sisanya sebagai pemain cadangan ataupun sebagai pemeriah suasana.

Pada puasa pertama atau sahur perdana, biasanya para ABG kampung saya sangat bersemangat untuk membangunkan orang sahur. Jadi jangan heran jika jam 12 malam, para ABG sudah berkumpul mempersiapkan perangkat gamelan untuk membangunkan orang sahur, padahal waktu sahur masih sekitar 3 jam lagi. yah, namanya juga euforia sahur pertama.

Nah, pada bulan puasa tahun ini, saya bener-bener geleng-geleng kepala sama para ABG kampung saya. Bagaimana ndak, di hari pertama puasa alias sahur perdana, saking semangatnya para ABG, mereka nekat membangunkan warga untuk sahur jam setengah 2 malam. Apa ndak edan itu namanya. Bayangkan, jam setengah 2. Kalau jam segitu kan ndak pantas disebut “membangunkan orang buat sahur”, tapi lebih cocok kalo disebut “mbangunin orang buat tahajud”. Weleh-weleh. Tapi tak apalah, namanya juga ABG, semangatnya masih membara (kata bung Haji), dulu saya pas masih ABG dan dapet jatah mbangunin orang pake gamelan, saya juga gitu kok (tapi ndak kebangetan kaya ABG tahun ini, hehehe).

Dan Suara gamelan jam setengah dua pagi itu, Sontak, membuat saya terbangun, ndak bangun bagaimana, lha wong suaranya keras banget, saya ndak tahu pasti berapa desibel, tapi yang pasti, sudah cukup untuk membuat orang kelabakan dari tidur karena saking kerasnya.

Mau tidur lagi, tapi mata ndak bisa merem, habis kebrebegan sama suara gamelan yang keras cetar membahana itu. jadi mau ndak mau ya saya melek terus dan sahur lebih awal, jam 2 pagi. Hhh, ndak papa lah, pengalaman.

Saya pun kemudian masak mie instan untuk sahur, maklum, ibu saya belum sempat mempersiapkan makanan untuk sahur, soalnya biasanya, ibu saya bangun lebih dulu dan kemudian baru membangunkan saya begitu makanan sudah siap. Hhh, untung saja saya punya persediaan beberapa bungkus mie instan. Aman deh.

Maka jadilah pagi itu, saya menikmati sahur perdana saya di bulan Ramadhan tahun ini dengan semangkuk mie instant rebus, dengan diiringi dengan deru suara gamelan jathilan yang makin keras. Bah, benar-benar sahur rasa jathilan

b47f8392a1040248fe1b558089979217_1045165_619212448098026_866607963_n
Ini gambar para ABG yang sedang berkeliling kampung sambil membunyikan gamelan jathilan untuk membangunkan para warga untuk sahur (gambar diambil oleh Kang Sahrudin, tetangga kampung saya)


TAGS ngaBLOGburit sahur


-

Author

Follow Me